Selasa, 01 Mei 2012

keterampilan bertanya



KETERAMPILAN BERTANYA
Keterampilan- keterampilan mengajar yang dapat dilatihkan melalui micro- teaching yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh praktik pengalaman lapangan di lembaga pendidikan, yakni di TK, SD, SLTP, atau SMU.[1] Salah satu keterampilan yang dibahas oleh kelompok dua adalah keterampilan bertanya.
A. Defenisi keterampilan bertanya
Mengajukan pertanyaan yang baik adalah mengajar yang baik. Oleh karena itu, “kita dalam bertanya adalah kita dalam membimbing siswa belajar”. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya guru tidak berhasil menggunakan teknik bertanya yang efektif. keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan “berpikir itu adalah bertanya”.[2]
Menurut Saidiman, bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal- hal yang merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir.[3]
G.A. Brown dan R.Edmondson mendefenisikan pertanyaan adalah segala pernyataan yang menginginkan tanggapan verbal. Pertanyaan tidak selalu dalam bentuk Tanya, tetapi dapat juga dalam bentuk kalimat perintah atau kalimat pertanyaan.[4]
Dan menurut Brown, bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri peserta didik. Cara untuk mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar peserta didik merupakan suatu hal yang tidak mudah.[5] Oleh sebab itu, sebagai pendidik kita hendaknya berusaha agar memahami dan menguasai penggunaan keterampilan dasar bertanya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian keterampilan dasar mengajar bertanya adalah suatu aktifitas guru yang berupa ungkapan pertanyaan kepada anak didik untuk menciptakan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir.[6]
B. Fungsi pertanyaan
Fungsi pertanyaan dalam kegitaan pembelajaran sepintas telah disinggung dalam bagian rasional, dan menurut Turney mengidentifikasi 12 fungsi pertanyaan seperti berikut:
1. Membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang suatu tofik.
2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu.
3. Menggalakkan penerapan belajar aktif.
4. Merangsang siswa mengajukan pertanyaan sendiri.
5. Menstrukturkan tugas- tugas hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara maksimal.
6. Mendiognosis kesulitan belajar siswa.
7. Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa senua siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
8. Menyediakan kesempatan bagi siswa untu mendemostrasikan pemahamannya tentang informasi yang diberikan.
9. Melibatkan siswa dalam memanfaatkan kesimpulan yang mendorong mengembangkan proses berpikir.
10.Mengembangkan kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan gurunya.
11.  Memberikan kesempatan untuk belajar berdiskusi.
12.  Menyatakan perasaan dan pikiran yang murni kepada siswa.[7]
C. Tujuan keterampilan bertanya
1. Merangsang kemampuan berpikir
2. Membantu siswa dalam belajar.
3. Mengarahkan siswa pada tingkat interaksi belajar yang mandiri.
4. Meningkatkan kemampuan berpikir siswa dari kemampuan berpikir tingkat rendah ke tingkat yang lebih rendah.
5. Membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang di rumuskan.[8]
6. Menguji dan mengukur hasil belajar.[9]
D. Komponen- komponen keterampilan bertanya
1. Kompnen- komponen bertanya dasar
a. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat.
Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata- kata yang dapat dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.[10] Usahakan jangan sampai peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan, hanya karena tidak mengerti maksud pertanyaan yang diajukan atau karena petanyaan yang panjang dan terbelit- belit.[11] Contoh:
-   Oleh sebab bagaimana bahwa bangsa Belanda datang  dan menjajah bangsa Indonesia?
-   Jelaskan apa latar belakang bangsa belanda menjajah Indonesia?
Pertanyaan di atas menunjukan bahwa pertanyaan yang kedua lebih jelas bahasanya, dan lebih jelas apa yang dimaksud sehingga akan lebih mudah bagi anak untuk mencari jawabannya.[12]
b. Memberikan acuan
Supaya siswa dapat menjawab dengan tepat, dalam mengajukan pertanyaan guru perlu memberikan informasi yang menjadi acuan pertanyaan.[13] Melaluli acuan ini dimungkinkan peserta didik mengolah informasi untuk menemukan jawaban yang tepat.contohnya:” kita sangat beruntung karena memiliki satu bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia yang dapat di pakai berkomunikasi oleh seluruh bangsa Indonesia, Negara- Negara tetangga kita severti Malaysia dan Filipina memiliki lebih dari satu kata pengantar. Coba jelaskan dampak penggunaan bahasa ini bagi perkembangan informasi di Negara kita dan Negara tetangga”.
Contoh diatas menunjukan bahwa acuan yang diberikan guru merupakan pedoman dalam menjawab pertanyaan. Tanpa acuan tersebut, jawaban mungkin akan bervariasi. Dengan mengolah acuan yang diberikan ataupun dengan mempedomani acuan yang diberikan, jawaban siswa akan lebih terarah.
c. Memusatkan perhatian
Pemusatan dapat dikerjakan dengan cara memberikan pertanyaan yang luas, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaanyang sempit. Oleh karena itu pertanyaan yang luas hendaknya selalu diikuti oleh pemusatan, yaitu yang memfokuskan perhatian siswa pada inti masalah tertentu.
Pertanyaan dapat digunakan untuk memusatkan perhatian peserta didik, di samping itu pemusatan perhatian dapat juga dilakukan dengan mengetuk meja, mengetuk papan tulis, dan tepuk tangan. Pemakaian pertanyaan untuk memusatkan perhatian peserta didik perlu disesuikan dengan kepentingan pembelajaran. Misalnya:
-   Binatang apakah yang hidup di udara? Jawabannya bisa bermacam- macam. Pertanyaan tersebut bisa dipusatkan sebagai berikut.
-   Binatang apakah yang hidup di udara, tetapi  kalau siang bergelantungan di pohon?
d. Pemindahan giliran
Pemusatan dapat dikerjakan dengan cara meminta siswa yang berbeda untuk menjawab pertanyaan yang sama.untuk melibatkan peserta didik semkasimal mungkin dalam pembelajaran, guru perlu memberi giliran dalam menjawab pertanyaan. Guru  hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran dalam menjawab pertanyaan. Pemberian giliran dalam menjawab pertanyaan, selain untuk melibatkan peserta didik, serta untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan. Pemberian giliran dalam menjawab pertanyaan ini tidak harus selesai dalam satu kali pertemuan, tetapi mungkin dalam dua atau tiga kali pertemuan. Pelaksanaannya dipadukan dengan teknik penyebaran pertanyaan.
Terdapat perbedaan antara pemberian giliran dengan penyebaran. Pemberian giliran adalah satu social dijawab secara bergiliran oleh beberapa orang peserta didik, sedangkan penyebaran adalah beberapa peratanyaan yang berbeda disebarkan secara bergiliran dan dijawab oleh peserta didik yang berbeda.[14]
Cara seperti ini dapat mendorong  siswa untuk selalu memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan interaksi antar siswa, contohnya.
Guru      :”bagaimana pendapat anda mengenai penyelenggaraan lomba karya ilmiah tahun ini?”
Siswa I   :”sangat baik”.
Guru      :”siapa yang dapat melengkapi jawaban tersebut?”
Siswa II :”ya, baik karena pengumuman persyaratannya cukup jelas”.
Guru       :”bagaimana dari segi mutu karya yang menang?”
Siswa III  :”karya yang menang memang hebat”.
Guru       :”bagaimana pendapat yang lain?”
Siswa IV :”saya setuju pak, saya kagum akan karya yang menang tersebut”.
Dari contoh di atas dapat dilihat, bahwa satu pertanyaan yang kompleks dapat dijawab oleh beberapa orang siswa yang saling melengkapi jawaban atau saling memberi komentar. Teknik pemindahan giliran yang diterapkan secara baik akan mampu meningkatkan perhatian dan partisipasi siswa.
e. Pemberian kesempatan untuk berpikir
Untuk menjawab satu pertanyaan, seseorang memerlukan waktu untuk berpikir. Demikian juga dengan siswa yang harus menjawab pertanyan guru memerlukan waktu untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, setelah mengajukan pertanyaan guru hendaknya menunggu beberapa saat sebelum meminta atau menunjuk siswa untuk menjawabnya. Kebiasaan guru yang menunjuk siswa terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan  itudi ajukan, tidak dapat dibenarkan, sebab tidak memberikan waktu untuk berpikir, peserta didik yang lain bisa jadi tidak memperhatikan, karena mereka sudah tahu siapa yang harus menjawab pertanyaan yang diajukan.
f. Pemberian tuntunan
Dalam menjawab pertanyaan, kadang- kadang  pertanyaan  yang diajukan oleh guru tidak dapat dijawab oleh anak didik, ataupun jika ada yang menjawab, jawaban yang diberikan  tidak seperti yang diharapkan. Dalam hal ini, guru tidak boleh diam dan menunggu sampai siswa memberikan jawaban. Guru harus memberika suatu tuntunan yang memungkinkan siswa secara bertahap mampu memberikan jawaban yang diharapkan. Tuntunan dapat diberikan antara lain dengan berbagai cara berikut:
-   Mengungkapkan kembali pertanyaan dengan cara lain yang lebih mudah dan sederhana, sehingga dapat dipahami oleh siswa.
-   Mengajukan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang dapat menuntun siswa menemukan jawabannya.
-   Mengulangi penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan.
2. Komponen- komponen keterampilan lanjutan
a. Pengubahan tuntunan tingka kognitif
Untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa diperlukan pengubahan tuntunan tingkat kognitif pertanyaan. Guru hendaknya mampu mengubah pertanyaan dari tingkat kognitif yang hanya sekedar  mengingat fakta menuju pertanyaan asfek kognitif lain, seperti pemahaman, penerapan, analisis, dan evaluasi.[15] Dan setiap pertanyaan perlu di sesuaikan  dengan taraf kemampuan berpikir siswa.
b. Urutan pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan haruslah mempunyai urutan yang logis.[16] Dan jangan mengajukan pertanyaan bolak balik dari yang mudah atau yang sederhana kepada yang sukar lagi. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada siswa dan partisipasi siswa dalam mengikuti pelajaran dapat menurun.
c. Penggunaan pertanyaan pelacak
Untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan siswa yang berkaitan dengan jawaban yang dikemukakan, kemampuan melacak perlu dimiliki oleh guru. Pertanyaan pelacak bisa di lakukan dengan klasifikasi, meminta argumentasi, meminta kesempatan pandangan, meminta jawaban yang lebih relevan, meminta contoh.
d.  Peningkatan terjadinya interaksi
Untuk mendorong terjadinya interaksi, perlu kita perhatikan, yaitu, pertanyaan hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya. Dan juga guru hendaknya menjadi dinding pemantul.
E. Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam memberi pertanyaan
Dalam memberi pertanyaan kepada siswa hendaknya guru memperhatikan beberapa hal, yaitu:
-   Sebelum memberi pertanyaan hendaknya guru sudah mengetahui jawaban yang dimaksud, sehingga jawaban yang menyimpang dari siswa akan segera dapat diketahui, dan diatasi.
-   Guru harus mengetahui pokok masalah yang ditanyakan dan memberi pertanyaan sesuai dengan pokok yang dibahas.
-   Hendaknya guru memberi pertanyaan dengan sikap hangat dan antusias.
-   Mengulang- ulang pertanyaan sendiri[17]
F. Jenis- jenis pertanyaan
1. Pertanyaan pengetahuan
Pertanyan yang menuntut siswa untuk mengingat dan mengatakan kembali fakta- fakta yang telah dipelajari. Kata- kata yang biasanya digunakan untuk membuat pertanyaan pengetahuan adalah. Siapa, apa, dimana, dan bilamana.contohnya,
-   ” Apa nama ibu kota propinsi Riau?”
2. Pertanyaan yang mengandung unsur suruhan dengan harapan agar siswa dapat mematuhi perintah yang diucapkan, oleh karena itu pertanyaan ini tidak mengharapkan jawaban dari siswa, akan tetapi yang diharapkan tindakan siswa. contohnya,
-   “dapatkah kamu menunjukan batas- batas wilayah propinsi jawabarat pada peta yang ada didepan kamu?”[18]
3. Pertanyaan pemahaman suatu bahan yang telah dipelajari yang terlihat antara lain dalam kemampuan seseorang menafsirkan informasi. Contohnya,
-   “jelaskan menurut kata- katamu sendiri tentang proses pembuatan tempe?”
4. Pertanyaan penerapan
Pertanyaan yang menuntut anak untuk memberi jawaban tunggal yang benar dengan cara menerapkan pengetahuan, informasi, rumus- rumus, untuk memecahkan persoalan- persoalan baru.contohnya,
-   “Berilah contoh pengamalan sila ke IV pancasila?”
5. Pertanyaan analisa
Merupakan suatu pertanyaan yang menuntut anak untuk berfikir lebih kritis yang dalam dengan suatu jalan penyelesaian.contohnya,
-   “ kehidupan di desa lebih tenang dibandingkan dengan kehidupan dikota, dapatkah anda mencari bukti- bukti?”
6. Pertanyaan sintesa
Pertanyaan yang menuntut anak untuk mengembangkan daya kreasinya, dan cirinya adalah bahwa jawaban yang benar tidak satu.contohnya,
-   “Apa yang terjadi apabila hutan terus ditebangi? ”
7. Pertanyaan evaluasi
Pertanyaan yang menghendaki jawaban siswa dengan cara memberi penilaian atau pandangannya terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian.contohnya,
-   “bagaimana pendapatmu tentang kenakalan remaja akhir- akhir ini? [19]
G. Tabel jenis pertanyaan yang bisa disiasati oleh guru ketika melakukan pembelajaran.[20]
Katagori pertanyaan
arti
Contoh
Terbuka
Pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban benar.
Mengapa ibu kota Indonesia, Jakarta?
Tertutup
Pertanyaan yang memiliki hanya satu jawaban yang benar.
Apa nama ibu kota Indonesia?
Produktif
Dapat dijawab melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan.
Berapa halam kertas diperlukan untuk menghabiskan sebuah spidol ini?
Tidak produktif
Dapat dijawab hanya dengan melihat, tampa melakukan pengamatan, percobaan, atau penyelidikan.
Apa benda ini?
Imajinatif/ interpretatif
Jawabnya diluar benda gambar/ kejadian yang diamati.
“gambar gadis termenung di pinggir laut”. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu?


DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buckhri. 2008. Guru Professional. Bandung: Alfabeta
Eni, Purwati. 2009. Micro Teaching. Surabaya: afriati
Fuad Bin Abdu Aziz Asy- Syalhab. 2005. Konsep Belajar Mengajar Cara Rasulullah Saw.Bandung: mqs marketing
http// Muhammad- bhasor. Blogspot.com/ 2010/ 08/ keterampilan dasar-mengajar- bertanya
http//www.Edukasi Kompasional. Com//2009/10/19/ Delapan- kompetensi dasar mengajar
J.J.Hasibun dan Moedjiono. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: pt. remaja rosdakarya
Mulyasa. 2006. Menjadi Guru Professional. Bandung: pt remaja rosdakarya
Muslich, Masnur. 2007. KTSP. Jakarta: Bumi Aksara
Soetomo. Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: usaha nasional
Sukirman, Dadang dan Mamad Kasmad. 2006. Pembelajaran Micro. Bandung: upi press
uno, Hamzah B. Orentasi Baru Dalam  Psikologi Pembelajaran. Jakarta: bumi aksara
usman, moh. User. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: pt remaja rosdakarya
winataputra, Udin s. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:UT
Winasanjaya. 2005. Pembelajaran dalam imflementasi kurikulum berbasis kompetensi. Bandung:



[1] Fuad Bin Abdu Aziz Asy- Syalhab, Konsep Belajar Mengajar Cara Rasulullah Saw,(Bandung: mqs marketing, 2005),hlm:80
[2] Hamzah B. uno, Orentasi Baru Dalam  Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: bumi aksara, 2006),hlm: 17
[3] J.J.Hasibun dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: pt. remaja rosdakarya, 2008),hlm: 62
[4] Udin s. winataputra, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta:UT, 2002),hlm:7.7
[5] http//www.Edukasi Kompasional. Com//2009/10/19/ Delapan- kompetensi dasar mengajar
[6] Purwati Eni, Micro Teaching, (Surabaya: afriati, 2009),hlm:6- 15
[7]Udin S. winataputra, op cit, hlm: 7.8
[8] J.J.Hasibun dan Moedjiono, loc cit
[9] Purwati eni, op cit,hlm:6- 16
[10] moh. User usman, Menjadi Guru Profesional,(Bandung: pt remaja rosdakarya, 2010), hlm:77
[11] Mulyasa, Menjadi Guru Professional, (Bandung: pt remaja rosdakarya, 2006)hlm:70
[12] Soetomo, Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: usaha nasional, ), hlm:85
[13] Hamzah B. uno, loc cit,.
[14] Mulyasa, op cit,. hlm: 71
[15] Dadang Sukirman dan Mamad Kasmad, Pembelajaran Micro,(Bandung: upi press, 2006),hlm: 188
[16] http// Muhammad- bhasor. Blogspot.com/ 2010/ 08/ keterampilan dasar-mengajar- bertanya
[17] Soetomo,op cit, hlm:80
[18] Winasanjaya, Pembelajaran dalam imflementasi kurikulum berbasis kompetensi,(Bandung: ,2005),hlm:158
[19] Buckhri Alma, Guru Professional, (Bandung: Alfabeta, 2008),hlm:28
[20] Masnur Muslich, KTSP, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),hlm: 77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar